Gawi Sia Bukan Sekadar Tarian, Tapi Simbol Persatuan dan Daya Tarik Wisata

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20250720 183935
Tokoh senior Ende di Jakarta, Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA foto bersama Gubernur NTT Melki Laka Lena usai pelaksanaan Festival Gawi Sia di TMII, Jakarta.

Festival ini sangat kaya dengan nilai budaya. Dimulai dari Sa’o Ria (rumah adat masyarakat Lio-Ende), dilanjutkan dengan ritual penghormatan leluhur, dan doa bersama untuk keselamatan. Dan tentu saja, puncaknya adalah tarian massal Gawi, yang bukan sekadar gerak tubuh, tapi sarat makna estetika, nilai-nilai moral, religi, dan filosofi hidup masyarakat kita. Gawi mengajarkan tentang kerja sama, kesetaraan, dan keharmonisan hidup bersama.

Apakah Anda melihat potensi pariwisata dari budaya ini?

Tentu. Gawi Sia dan budaya Ende pada umumnya memiliki nilai jual tinggi dalam sektor pariwisata. Bayangkan jika ini dipadukan dengan kekayaan alam seperti Danau Kelimutu, nilai spiritual masyarakat lokal, serta keramahan warga. Ini bisa jadi daya tarik besar untuk wisata budaya dan ekowisata, yang sekaligus memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal. Tapi tentu perlu promosi yang terstruktur dan berkelanjutan.

Langkah strategis apa yang menurut Anda perlu dilakukan ke depan?

Yang paling utama adalah menjadikan Gawi Sia bukan sekadar acara tahunan, tapi program berkelanjutan. Ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:

Exit mobile version