Oleh: Arianto Zany Namang
OPINI, RAKYATFLORES.COM-Saya baru saja membaca curahan hati (curhat) Bupati Kabupaten Ende Yosef Benediktus Badeoda di platform Facebook yang dibagi oleh seorang teman di grup WA. Reaksi fisik yang pertama kali muncul adalah lelah mata karena paragraf yang terlalu panjang terutama pada paragraf kedua dan kelima.
Paragraf yang panjang membuat pesan yang menarik menjadi tidak menarik apalagi itu ditulis di medsos yang kebanyakan dibaca di HP. Idealnya, satu paragraf berisi tiga-empat paragraf. Tidak lebih.
Selain itu, beberapa kata keterangan tempat (nama tempat) yang harusnya diawali dengan huruf kapital ditulis kecil semua. Contoh di paragraf kedua: “ende”, “nangaboa watumite”, “nioniba maukaro”, “waka”, “ndori”, “reka kakasewa”, “ngaluroga”, “roworeke”, “pulo ende”, dan seterusnya. Ini hal mendasar dalam pelajaran bahasa Indonesia sejak Sekolah Dasar tetapi sepertinya diabaikan oleh bupati.
Saya membaca teks yang amburadul itu sambil merefleksikan bahwa memang benar kita di NTT krisis literasi. Persoalan baca-tulis masih lemah.
