Diskusi ini juga menghadirkan narasumber Agung Hermanus Riwu, seorang penulis, pegiat literasi, sekaligus Ketua FTBM NTT Kota Kupang, yang menyoroti tiga tantangan utama yang menyebabkan krisis dalam pengembangan diri.
Menurut Agung, krisis ini terjadi pada aspek menulis, membaca, dan berbicara, yang masih sering diabaikan oleh banyak orang.
“Krisis ini mempengaruhi kemampuan individu untuk berkembang, baik dalam berkomunikasi maupun berpikir kritis. Membaca, menulis, dan berbicara adalah keterampilan dasar yang harus terus diasah,” jelas Agung.
Wahid Aman, seorang pegiat literasi dan Widyaprada Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTT, yang juga narasumber dalam kegiatan ini menambahkan satu tantangan lagi yang tak kalah penting, yaitu krisis menyimak. Menurut Wahid, kemampuan menyimak yang baik sangat penting dalam proses pembelajaran dan komunikasi.
“Kita sering lupa bahwa menyimak adalah dasar dari pemahaman. Tanpa kemampuan menyimak yang baik, pesan yang disampaikan bisa salah ditafsirkan,” ujar Wahid.
Vivin Da Silva, peserta dari Komunitas Lorosae, mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru baginya, terutama dalam hal tata penulisan dan pemanfaatan media sosial secara bijak.
