TBM Bintang Timur Sukses Menggelar Lokakarya Menulis Buku Cerita Anak

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001027161

“Selain itu, penting juga untuk menulis buku cerita anak berbasis kearifan lokal, agar anak-anak dapat mengenal dan mencintai budayanya sendiri,” jelas Robi dengan rinci.

Ia juga membahas langkah-langkah konkret dalam proses kreatif menulis buku cerita anak. Proses ini dimulai dari membaca banyak referensi, mempelajari berbagai gaya dan struktur cerita, menggali ide, menyusun draft, hingga melakukan editing sebelum cerita dipublikasikan.

Robi tidak hanya membahas teori, namun juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berlatih langsung menulis cerita anak dengan menggunakan beberapa buku karyanya sebagai contoh.

Buku-buku tersebut antara lain: Jreng! Jeng! Jeng! Tato Nenek , Mariana Menari di Batas Negeri, dan Air!Air!Air!.

Marianus Seong, seorang musisi dan pengurus YASPENSI NTT, juga hadir sebagai narasumber. Dalam sesinya, Marianus menekankan bahwa ide menulis cerita anak bisa lahir dari pengalaman nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

“Menulis cerita anak tidak harus dimulai dari hal-hal yang rumit. Kita bisa mengambil inspirasi dari latar belakang kita sendiri, dari apa yang kita alami sehari-hari. Dengan begitu, cerita akan terasa lebih autentik dan relevan,” ujarnya.

Exit mobile version