“Kita harus menciptakan lapangan kerja yang tidak hanya bergantung pada negara, seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena kuotanya yang terbatas. Pertama-tama, kita harus lihat pada potensi yang kita miliki saat ini. Membangun NTT harus dimulai dari apa yang kita miliki, dari keseharian kita, bukan dari apa yang tidak kita miliki,” ujar Calon Gubernur NTT nomor urut satu tersebut.
Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI itu menyebutkan bahwa NTT memiliki kekayaan alam dan keragaman budaya, yang sayangnya sampai hari ini belum dikelola secara optimal menjadi objek wisata dengan standar atau mutu yang baik. Padahal, sektor pariwisata adalah lokomotif yang dapat menggerakkan roda perekonomian daerah dalam berbagai sektor. Karena itu, NTT harus mulai dari sektor pariwisata.
“Pariwisata itu ibarat lokomotif kereta yang menggerakkan gerbong-gerbong ekonomi lainnya, seperti kelautan dan perikanan, pertanian, peternakan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan transportasi. Sederhananya, wisatawan ketika datang pasti akan butuh mobil, makan, dan ketika pulang butuh beli oleh-oleh. Kita harus dorong pembangunan pariwisata di NTT dan memastikan bahwa dampak ekonominya dirasakan oleh masyarakat asli NTT. Masyarakat NTT harus bisa menikmati hasil dari pariwisata,” terang satu-satunya Calon Gubernur NTT yang berpasangan dengan perempuan itu.
Oleh sebab itu, dirinya akan menciptakan sistem pariwisata yang mendukung masyarakat kecil seperti para petani, peternak, nelayan, masyarakat adat, dan UMKM untuk bisa berpartisipasi sebagai pelaku pariwisata. Pria dengan tagline “Manyala Kaka” ini menginisiasi pembangunan pariwisata berbasis komunitas atau community based ecotourism. Ini adalah cara dirinya untuk memastikan masyarakat kecil tidak tersingkirkan dari pembangunan pariwisata.
Selain pembangunan di sektor pariwisata, pria berdarah Ende-Belu itu juga akan memperbaiki cara pengelolaan komoditi di sejumlah daerah di NTT. Menurutnya, selama ini masyarakat terbiasa dengan skema pengolahan tanam-petik-jual.
Ke depan, cara pengolahan seperti ini harus dirubah menjadi tanam-petik-olah-jual. Untuk itu, Ansy Lema berkomitmen mendirikan pabrik pengolahan komoditi di NTT. Pengolahan adalah unsur penting yang harus ada agar harga jual komoditi menjadi tinggi.
