“Saya percaya cawagub yang Takut akan Tuhan, berintegritas, dan berkapasitas dapat meningkatkan elektabilitasnya, yang memberi insentif elektoral kepada saya. Artinya, keunggulan politik nilai akan terkonversi menjadi politik angka elektoral. Keunggulan nilai dan karakter personal cawagub akan membuatnya bersinar, dan kemudian mendongkrak elektabilitas,” ujarnya.
Selain empat kriteria “TAS”, Juru Bicara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini berharap, figur cawagub juga harus memiliki semangat inklusif, toleran dan merangkul keberagaman.
Ansy beralasan, pemimpin inklusif sangat penting karena NTT adalah miniatur NKRI. Provinsi di tenggara Indonesia ini memiliki keanekaan budaya, bahasa, dan agama. Maka figur yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin adalah seseorang yang mampu merangkul kebhinekaan dan hadir di tengah keanekaragaman tersebut. Pemimpin adalah perekat kebhinekaan, bukan peretak keberagaman.
“Yang mampu memahami dan menghargai orang lain yang berasal dari latar belakang berbeda. Cawagub harus pandai merajut tenun kebhinekaan di NTT,” sambung Ansy.
Politisi yang akrab disapa dengan panggilan Kaka Ansy itu juga berharap cawagub memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu perempuan dan kesetaraan gender, kesehatan dan pendidikan, pertanian dan perikanan, pemberdayaan milenial dan gen Z serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di NTT.
“Selain itu, cawagub harus memiliki keberpihakan kepada konservasi ekologi yang melibatkan masyarakat adat, pro investasi yang ramah ekologis dan pro rakyat, serta mendukung penuh pembukaan lapangan kerja baru,” papar Ansy.
Ansy percaya, cawagub yang memiliki rekam jejak spiritualitas, integritas dan kapasitas dapat membentuk pasangan dwitunggal yang solid, kompak, siap, dan memiliki komitmen untuk mempercepat pembangunan di NTT.
