Kunjungi Kampung Adat Takpala, Ansy Lema; Lestarikan Adat Istiadat, Modal NTT Maju dan Berkarakter

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001049199

Yang ketiga adalah Kanuruat, yang berarti laki-laki. Rumah Kanuruat ini memiliki tingkat kesakralan yang lebih besar dari Fala Foka dan Kolwat.

Kanuruat hanya buka satu kali setiap tahun yakni pada tanggal 20 Juli. Dibukanya Rumah Kanuruat ini menandakan musim tanam yang baru telah tiba. Rumah Kanuruat hanya bisa dimasuki oleh tokoh-tokoh adat tertentu.

Selain menyimpan kearifan lokal dan peninggalan-peninggalan bersejarah, Kampung Adat Takpala juga memiliki produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang lahir dari tangan-tangan kreatif mama-mama penenun, seperti kain tenun khas Alor, pae-pae (ikat kepala untuk laki-laki) yang terbuat dari bulu ayam jantan, dan kiti-kiti (ikat kepala perempuan) yang terbuat dari anyaman daun lontar.

Gelang, rantai hingga ikat pinggang yang berasal dari kekayaan alam sekitar seperti, batu hitam, kayu kenari, biji pisang hutan, biji gandum, kulit kea (penyu), akar bahar, gading, hingga tulang ikan hiu. Pernak pernik yang berasal dari fosil hewan seperti, tanduk kerbau, ikan buntal, kaki ayam hutan hingga tanduk rusa juga dibuat oleh mama-mama Kampung Adat Takpala.

“Pariwisata NTT harus berbasis pada budaya. Segala bentuk kerajinan tangan yang dibuat oleh mama-mama ini adalah modal budaya yang kuat dan harus kita lestarikan. Kita perlu membuat ekosistem yang baik agar pariwisata berbasis budaya di NTT berkembang,” terang Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI tersebut.

Sayangnya, di balik warisan adat istiadat dan budaya tersebut, Kampung Adat Takpala menghadapi masalah serius, yakni krisis generasi penerus. Salah seorang tokoh adat setempat, Jangkar Takpala mengungkapkan bahwa saat ini kesadaran anak muda akan keberadaan kampung adat terkikis rasa gengsi.

Exit mobile version