Tidak hanya menjual koran, AWK juga berjualan telur rebus di Terminal Maumere setelah pulang sekolah. Aktivitas itu dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dominikus mengatakan, perjuangan sahabatnya itu sangat membekas dalam ingatannya. Ia bahkan masih mengingat kondisi seragam sekolah AWK yang berubah warna akibat aktivitas yang dijalani sepanjang hari.
“Saya ingat sekali, baju seragamnya yang awalnya putih sampai berubah menjadi kuning karena aktivitasnya yang padat saat itu,” ungkapnya.
Kisah tersebut menjadi gambaran perjalanan hidup seorang anak daerah yang tumbuh dengan kerja keras sejak usia muda. Dari menjual koran dan telur rebus di terminal, kini Angelius Wake Kako dipercaya masyarakat Nusa Tenggara Timur untuk duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.
Bagi Dominikus, pengalaman masa lalu itu menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan sejak dini dapat membawa seseorang mencapai posisi penting dalam kehidupan.
“Perjuangan itu nyata. Dari Terminal Maumere hingga menjadi senator, itu perjalanan yang tidak mudah,” pungkasnya.
