Awalnya ia bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Namun sang kakak membujuknya ikut tes calon imam.
“Saya diberi hadiah kain celana oleh kakak, lalu saya lulus (jadi calon imam). Kakak senang, tapi saya sempat cemas karena tidak jadi insinyur,” kenangnya yang disambut tawa umat.
Menutup kisahnya, Pater Silvester dengan rendah hati berkata, “Seandainya dulu saya diambil Tuhan, tak mungkin kita semua ada di sini,” ungkapnya.
