Ansel menjelaskan, persoalan jembatan gantung tersebut sebenarnya telah disampaikan saat kegiatan reses anggota DPRD pada awal 2025. Usulan itu bahkan telah diinput dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD). Namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Ende.
“Saya sudah masukkan dalam hasil reses dan sudah diinput dalam SIPD, tetapi belum ada jawaban sampai sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu warga Desa Tenda Ondo, Valentinus Djata, membenarkan kondisi jembatan yang memprihatinkan. Ia mengatakan sebagian papan pijakan jembatan sudah rusak, namun tetap digunakan karena menjadi satu-satunya akses menuju SD Malasera di wilayah Kabupaten Nagekeo.
Menurutnya, saat hujan deras dan debit air sungai meningkat, anak-anak tidak memiliki alternatif jalan lain menuju sekolah.
“Anak-anak tetap berani lewat karena tidak ada jalan lain ke sekolah, apalagi saat hujan lebat air sungai sangat tinggi dan deras. Kami berharap pemerintah segera memperbaikinya,” ungkapnya.
