Kedua, Toto Raya yang pemukimannya di daerah aliran sungai (sungai Toto, red) Malapadhu-Bhondukado-malasera-Lelawete-Ndudi-Nangamboa terdampak musibah banjir berulang-ulang tetapi tidak ada penanganan serius dari pemerintah kabupaten Nagekeo dan Ende. Demikian juga masyarakat yang berpemukiman di daerah aliran sungai Dowo Dodo dan Dowo Ndola : Kopodako, Kodidewa.
“Usulan bronjongnisasi atau normalisasi sudah lama diajukan, bahkan petugas dari BPBD berulang-ulang datang survey tetapi tanpa realisasi,” ungkapnya.
Ketiga, sampai saat ini ada dua wilayah di Toto-Ute Raya yang belum nikmati jalan raya masuk kampung dan listrik masuk kampung yakni kampung Nunudhele serta kampung Wodowae. Usulan listrik dan jalan agar masuk ke wilayah ini sudah berulang-ulang disampaikan, tapi pemerintah terkesan tidak lagi peduli, alasannya jumlah penduduk di wilayah ini tergolong kecil dengan jumlah Rumah dan kepala Keluarga masih sedikit. Padahal pada wilayah tersebut terdapat sejumlah potensi enkonomi dan komoditi pertanian masyarakat.
Keempat, rumah tidak layak huni di wilayah Toto Raya masih sangat banyak, tetapi dinas perumahan dan tata kota dan perumahan selama ini tidak memiliki niat yang serius untuk menuntaskan masalah ini. Bahkan di desa Odaute sudah tiga tahun tidak mendapatkan sentuhan bantuan perumahan.
Kelima, krisis air bersih masih menjadi masalah serius di Toto Raya. Masyarakat desa Odaute, Nataute dan Kelurahan sudah sejak lama mengusulkan pembangunan sarana air bersih. Justru ketika pembangunan hadir dikerjakan asal-asalan dan sampai hari ini proyek air minum di wilayah ini tidak tuntas dilakukan dan meninggalkan sejumlah masalah.
“Masyarakat mendesak agar DPRD merekomendasikan temuan-temuan ini ke pihak aparat penegak hukum untuk diproses secara hukum bagi mereka yang nakal,” tegasnya.
