Gusti yang juga merupakan staf pengajar Filsafat Ekonomi di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini menyatakan, jam belajar itu bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan ilmiah-akademik di rumah masing-masing atau dalam komunitas tertentu. Beragam kegiatan bisa dilakukan saat jam belajar: membaca, membuat ringkasan buku bacaan, mengulang pelajaran di sekolah dan mengerjakan PR, latihan menulis kreatif, berlatih public speaking, dan lain-lain.
“Pada prinsipnya, saya melihat niat baik Gubernur Melki agar anak-anak kita kembali mengintimi buku,” kata Gusti yang juga merupakan alumnus IFTK Ledalero ini.
Gusti optimistis, jika siswa-siswi di NTT mulai kembali mengakrabi buku, maka ketergantungan terhadap gadget, handphones, dan hal-hal lain bisa diminimalisir. Begitu juga dengan rendahnya kemampuan literasi dan numerasi para siswa NTT seperti yang dikabarkan sejumlah media beberapa waktu terakhir ini bisa diatasi jika ada kehendak baik untuk mengoptimalkan jam belajar ini.
Gusti mengaku bahwa tidak mudah untuk memulai kebiasaan membaca buku ini lagi. Kendati demikian, untuk konteks NTT, intimitas dengan buku bukan hal yang terlalu baru. Dari sejarahnya, orang-orang NTT akrab dengan buku. Penerbit Nusa Indah di Ende adalah salah satu yang paling terkemuka pada zamannya. Begitu juga dengan sebaran para ahli bahasa, sastrawan, dan wartawan asal NTT di sejumlah lembaga pendidikan, forum dan media arus utama adalah bukti bahwa orang-orang NTT tidak boleh sekali-kali diremehkan dalam hal kemampuan literasi dan numerasi.
