Ferdy Hasiman melihat pembangunan NTT tidak hanya pada momentum pilkada 2024. Kelompok-kelompok kritis dan kreatif seperti generasi millennial perlu bergerak dari Jakarta untuk membangun NTT. Caranya dengan mendorong optimalisasi kinerja 13 anggota DPR dan 4 anggota DPD terpilih dari NTT.
“Kita perlu mendesak mereka untuk bertarung di banggar memastikan banyak APBN mengalir ke NTT. Selam aini, kita melihat mereka pulang ke NTT bagi-bagi sumbangan, namun kita belum menemukan hal itu berdampak massif untuk masyarakat,” jelas Ferdy.
F.X.Gian Tue Mali melihat susahnya memberantas politik uang (money politics) di NTT karena adanya pertarungan kelas. Masyarakat ‘dibiarkan’ untuk selalu berada pada posisi yang sangat membutuhkan dana segar, tanpa ada inisiatif para politisi untuk menyejahterakan mereka.
“Hal ini terlihat dari tidak adanya inisiatif para politisi kita untuk membuka akses pasar berkeadilan bagi masyarakat akar rumput,” ungkap Gian.
Menurut Gian, politik NTT juga minim regenerasi. Kalaupun ada anak-anak muda yang muncul biasanya hanya menjadi bukti menguatnya politik dinasti melalui ‘marketing’ figur dan gaya politik sang ayah.
