“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5).
Umat merayakan Hari Bae bukan hanya karena ritual, melainkan karena syukur yang mendalam. Hari itu menjadi bukti bahwa Allah tetap setia dan terus berkarya di tengah umat-Nya. Melalui salib Kristus, Allah membebaskan dunia dari dosa dan kematian. Itu sebabnya, bukan hanya Jumat Agung yang menjadi hari baik, setiap hari adalah hari baik, selama kita membangun relasi yang baik dengan Tuhan, sesama, dan ciptaan.
Iman umat Larantuka bukan hanya dibangun di atas kenangan dan tradisi, tetapi juga melalui kesaksian nyata dan komitmen yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tahun demi tahun, semakin banyak anak muda yang terlibat. Mereka ikut mendayung sampan, berjalan dalam prosesi, bahkan ada anak-anak yang berlutut mencium karpet penuh kesungguhan. Ini adalah tanda hidupnya iman dan harapan Gereja di masa depan.
