Menepi untuk Melompat: Retret Kepemimpinan sebagai Arah Baru Birokrasi NTT

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20251009 113355
Gergorius Babo, Asesor SDM Aparatur Ahli Muda BKD Provinsi NTT.

Di sisi lain, kegagalan birokrasi tidak hanya bersumber dari kelemahan strategi, melainkan juga dari lemahnya integritas. Retret memberi ruang untuk meneguhkan kembali komitmen pada nilai moral, transparansi, dan keberpihakan pada masyarakat. Bush (2018) melalui konsep transformational leadership menegaskan bahwa kepemimpinan transformatif menginspirasi bawahan untuk bekerja berdasarkan nilai, bukan sekadar menjalankan instruksi. Pemimpin yang transformatif membangun suasana kerja yang menumbuhkan kreativitas, motivasi, serta komitmen kolektif untuk mencapai visi bersama.

Lebih lanjut, Goleman (1998) menegaskan bahwa keberhasilan kepemimpinan lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional daripada kemampuan intelektual semata. Pandangan ini sejalan dengan Salovey dan Grewal (2005), yang menyebut kecerdasan emosional sebagai kemampuan memahami, mengenali, dan mengelola emosi diri serta orang lain. Serrat (2017) menambahkan bahwa kecerdasan emosional menjadi fondasi penting untuk membangun hubungan sehat dan kerja sama efektif. Konsep ini relevan dalam konteks retret, karena melalui interaksi yang lebih humanis, pejabat dapat membangun empati, kerja sama, dan komitmen sosial yang lebih kuat.

Exit mobile version