Di sinilah peran guru menjadi sangat mulia dan strategis. Guru di NTT tidak hanya bertugas mengajar membaca dan berhitung, tetapi juga menjadi orang dewasa yang menghadirkan harapan. Guru adalah figur yang paling dekat dengan anak setiap hari. Ketika keluarga miskin tidak mampu memberi dukungan, kata-kata seorang guru bisa menyelamatkan masa depan, bahkan nyawa seorang anak.
Pendidikan anak harus menjadi prioritas nomor satu negara, daerah, gereja, dan masyarakat. Tidak boleh lagi ada anak yang merasa sendirian menghadapi kemiskinan. Tidak boleh lagi ada anak yang mengakhiri hidup karena buku sekolah. Jika itu terjadi, maka kita semua pemerintah, wakil rakyat, pemuka agama, dan pendidik gagal secara kolektif.
Negara harus hadir bukan hanya dalam pidato, gereja tidak cukup hadir dalam liturgi, dan sekolah tidak cukup hadir dalam kurikulum. Semua harus hadir di hati anak-anak yang paling lemah.
Jika NTT ingin keluar dari lingkaran kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan, maka perlindungan terhadap anak-anak miskin secara ekonomi, pendidikan, dan iman harus menjadi agenda utama bersama. Tanpa itu, kita hanya akan terus berduka dari satu tragedi ke tragedi berikutnya.
