Rinduku Padamu, Batu Tungku

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
Biru Kuning Modern Perjalanan Facebook Cover 20251107 093811 0000
Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si, Dosen STPM Santa Ursula.

Sayangnya, kini yang tersisa hanyalah slogan. Batu Tungku telah digantikan oleh meja-meja rapat, notulensi proyek, dan upacara tanpa makna. Pemerintah berjalan sendiri dengan logika anggaran, institusi agama sibuk dengan urusan internal, dan masyarakat sibuk bertahan hidup. Di tengah deru modernitas, kita kehilangan percakapan paling penting: tentang kebersamaan yang pernah kita miliki.

Rinduku padamu, Batu Tungku, pada masa ketika setiap pembangunan dimulai dengan doa, musyawarah, dan kerja bersama. Ketika kepala desa, pemimpin agama, dan tokoh masyarakat duduk di tanah, bukan di podium. Ketika program bukan hasil perintah, melainkan hasil mufakat.
Kini, yang kita sebut “pembangunan” sering kali hanya berarti laporan dan angka. Peningkatan ekonomi tidak diikuti peningkatan kemanusiaan. Infrastruktur berdiri megah, tapi kepercayaan publik runtuh pelan-pelan. Kita lupa bahwa batu tungku bukan hanya alat untuk memasak, tapi lambang kesetiaan terhadap nilai: bahwa kesejahteraan tidak mungkin lahir tanpa keadilan, partisipasi, dan kejujuran.

Exit mobile version