Gambaran ketiga wartawan di atas membuat saya tersenyum sambil merenung tentang kondisi NTT sejak puluhan tahun lalu hingga saat ini. Media massa dan karya-karya jurnalistik dalam banyak hal adalah dokumentasi yang baik tentang realitas. Potret dokumentasi itu penting bagi kita untuk melihat ke belakang serentak mengambil langkah saat ini untuk suatu harapan dan visi bersama ke depan.
Dari Yunyun Dou, kita belajar bahwa ada rasa kagum dan rasa ingin tahu yang besar dari orang luar tentang NTT, yang indah alamnya. Rudy Badil membantu kita memotret realitas di tengah masyarakat yang mempertemukan adat-istiadat dengan manajemen pemerintahan. Ada kesalahpahaman dan masalah kesepahaman yang terus terjadi, karena tidak adanya proses saling belajar. Pada Desi Anwar ada kritik pembangunan.
Peran Media di NTT
Saya pikir laporan lama ketiga wartawan kaliber itu juga mewakili sebagian peluang dan tantangan kita di NTT yang masih relevan hingga saat ini. Kita masih berurusan dengan kekayaan alam, budaya dan potensi pariwisata yang belum berdampak besar bagi masyarakat lokal. Kita masih sering temukan kesalahpahaman antara masyarakat adat dengan aparat keamanan, antara gereja lokal dengan (wakil) rakyat, antara pemerintah dan swasta, dan lain-lain.
Menarik untuk menyimak pesan Natal Gubernur NTT terpilih Emanuel Melkiades Laka Lena dalam Natal dan Tahun Baru bersama Wartawan NTT di Kupang, Jumat (30/01/25) kemarin malam. Gubernur Melki memaknai secara positif-konstruktif tema Natal “Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem”. Ke Betlehem itu berarti membangun NTT, demikian tegas Melki. Skala prioritas juga dipetakan: menurunkan angka stunting, menurunkan angka kemiskinan, menyelesaikan persoalan lahan, memastikan pasokan energi, mengembangkan pariwisata, dan lain-lain.
Dan, saatnya: sekarang! Keterangan waktu ini penting, saat ini. Sekaranglah saatnya kita membangun NTT. Bukan terlena pada nostalgia masa lalu. Tidak menundanya untuk dilakukan besok atau tahun depan. Pada keterangan waktu sekarang, ada imperatif moral yang oleh pengajar Etika di IFTK Ledalero Romo Richard Muga Buku sebut sebagai ‘kebergegasan empatis’: berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Pada titik ini, media massa dan para wartawan mendapat tugas penting.
Pesan Natal Melki Laka Lena bisa dipahami secara kreatif melalui sejumlah peran khas para awak media. Pertama, prospektif-promotif. Para awak media NTT perlu banyak mempromosikan sejumlah potensi daerah yang bisa diaktualisir menjadi pembangunan yang memiliki prospek masa depan bagi NTT. Untuk tujuan ini, media bisa menjadi rekan bagi pemerintah dan masyarakat setempat. Kedua, tugas verifikasi. Media massa harus memastikan kebenaran pemberitaan yang disebar. Ketiga, kritis-konstruktif. Media massa NTT harus kritis serentak konstruktif. Gubernur Melki mengatakan, “Silakan kritik kami!”, sekaligus juga mengajak, “Ayo bersama-sama membawa manfaat bagi masyarakat!”. Pada titik ini, media menambah perannya sebagai rekan yang kritis-solutif. Akhirnya, tugas media di NTT memang mengabdi kepada kemanusiaan, human-interest, yang pada konteks ini tentu saja pembangunan manusia NTT yang sehat, unggul, sejahtera dan bahagia.
