Menurut Marselinus, kondisi tersebut berdampak langsung pada kesiapan belajar siswa di sekolah. Bahkan, sebagian siswa mengaku jarang membaca buku, yang kemudian berpengaruh pada hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang dinilai cukup memprihatinkan.
Ia menegaskan bahwa pengaturan jam belajar bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua, pemerintah, serta aparat keamanan.
“Program Kihajar adalah gerakan bersama untuk menghargai proses belajar. Anak-anak sangat cepat memahami penggunaan HP, tetapi ketika diminta melepaskan HP, mereka kebingungan. Ini menjadi keprihatinan serius bagi sekolah,” katanya.
Di lingkungan sekolah sendiri, pihak SMA Negeri 1 Ende telah menerapkan kebijakan penitipan handphone siswa di wali kelas pada pagi hari. Namun dalam praktiknya, masih ditemukan pelanggaran.
“Kami dilema. Bertindak terlalu keras berbahaya, tidak bertindak juga berbahaya. Karena itu kami libatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas, lurah, serta KUB agar bersama-sama mengawasi,” tegas Marselinus.
