Ansy-Jane Siap Wujudkan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001105994

RAKYATFLORES.COM | ENDE-Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) nomor urut satu Yohanis Fransiskus Lema dan Jane Natalia Suryanto (Ansy-Jane) berkomitmen menciptakan New Growth Center atau Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di NTT untuk tingkatkan daya saing daerah. Pusat pertumbuhan baru ini akan menjadi pemicu peningkatan ekonomi provinsi termiskin keempat di Indonesia.

Politisi PDI Perjuangan itu menyampaikan bahwa penciptaan pusat pertumbuhan baru di NTT ini akan berfokus dan berdasarkan pada potensi, keunggulan dan karakteristik masing-masing wilayah di NTT. Menurutnya, pewilayahan komoditi menjadi kata kunci untuk mewujudkan pusat pertumbuhan baru di Tanah Flobamora.

“Kami akan menciptakan new growth center atau pusat pertumbuhan baru di NTT berdasarkan potensi, keunggulan dan karakteristik wilayah. Pewilayahan komoditi menjadi kata kunci di sini,” ujar Ansy Lema, Kamis 21 November 2024.

Baginya, pewilayahan komoditi harus dilakukan. Misalnya, potensi komoditi kemiri di Alor dan rumput laut di Kabupaten Kupang, Flores Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, dan Sumba Timur. Pewilayahan ini yang kemudian menjadi dasar kebijakan pemerintah dalam membangun industri-industri potensial berdasarkan keunggulan masing-masing wilayah.

Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI itu menjelaskan bahwa untuk mengidentifikasi potensi-potensi strategis yang perlu dikembangkan di NTT akan diterapkan pola Survei, Identifikasi, dan Desain (SID). Ia menyebutkan bahwa basis SID adalah riset dan inovasi, sehingga pemerintah harus menggandeng dunia kampus dan dunia usaha untuk merancang pola industri yang akan dibangun.

“Semuanya harus berdasarkan pada data riset. Survei dan identifikasi ini yang akan memberikan pemetaan potensi, keunggulan dan karakteristik tiap-tiap wilayah di NTT. Karena itu, kita perlu melibatkan dunia kampus dan dunia usaha untuk merancang pola industri yang mau kita bangun karena mereka yang paling memahami kondisi NTT,” terang Alumni Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Exit mobile version