Bengkaknya utang pemprov NTT dimasa kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat tersebut berbanding terbalik dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan. Bahkan pemprov NTT hanya mampu menghasilkan PAD sebesar Rp. 1,3 triliun rupiah.
“Dengan kondisi ini, kalau diibaratkan sebagai perusahaan, NTT dalam posisi bangkrut karena penghasilan PAD tidak mampu menutupi utang,” jelasnya.
Masalah lain, kata Frans, sebagai sebuah instrumen dalam penyaluran dana, Bank NTT sebagai sebuah bank daerah juga mempunyai permasalahan tersendiri yang harus segera diselesaikan.
“Kalau mau saya katakan realitanya bank daerah sudah bangkrut. Karena dia punya utang dan harus injek dana sekitar 500-700 miliar. Dan ini masalah besar dalam hal kapitalisasi keuangan daerah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata Frans Aba, diperparah dengan lemahnya fungsi pengawasan dari DPRD NTT. Bahkan ia mempertanyakan dimana keberadaan anggota DPRD NTT ketika pemerintah provinsi NTT dililit hutang hingga mengalami kebangkrutan.
“Salah satu keterpanggilan saya untuk terlibat dalam pencalonan Gubernur ini karena ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya, baik masalah utang maupun bank. Karena saya punya kemampuan,” ujarnya.
