“Bapa mama tahu mengapa kementerian itu setiap kali saya berbicara, mereka selalu mendengar dan melaksanakan apa yang menjadi permintaan saya? Jawabannya sederhana. Itu karena saya bersih. Ansy Lema tidak main proyek. Mereka tahu bahwa Ansy Lema kencang bersuara di Senayan, bahkan kalau perlu sampai pukul meja, itu semuanya untuk masyarakat NTT. Bukan untuk kantong pribadi Ansy Lema,” terang pria kelahiran 1976 tersebut.
Semua pencapaian kinerja tersebut, mempertegas bahwa sosok calon gubernur dengan nomor urut satu tersebut adalah sosok komunikator politik yang hebat dan seorang politisi dengan jejaring politik yang luas. Jahitan panjang karir politiknya membuat Ansy Lema tumbuh menjadi sosok politisi yang diperhitungkan di kancah nasional.
Selama menjadi bagian dari pilar demokrasi, Ansy Lema juga tidak pernah sekalipun terlibat dalam persoalan yang merugikan rakyat ataupun perbuatan melanggar hukum.
Selain jejaring politiknya di kementerian-kementerian negara, Ansy Lema juga memiliki hubungan pertemanan lintas partai politik, yang merupakan tokoh-tokoh kunci partai. Salah satunya adalah Ketua Fraksi Partai Gerindra DPR RI Budisatrio Djiwandono.
Budi merupakan keponakan kandung Presiden RI terpilih Prabowo Subianto. Ketika Ansy Lema diterpa isu bahwa dirinya tak akan dibantu Prabowo ketika terpilih menjadi Gubernur NTT nanti, Budi berjanji akan mempertemukan Ansy Lema dengan Prabowo Subianto jika ia terpilih menjadi Gubernur NTT.
Di samping itu, pertemanannya bersama Ahok telah menjadikan pria dengan tagline “Manyala Kaka” ini tumbuh sebagai sosok pemimpin yang berintegritas. Dalam berbagai kesempatan, Ansy Lema kerap mengungkapkan bahwa dirinya tak pernah sekalipun menerima uang yang tidak ada potongan pajaknya, baik itu sogokan, gratifikasi, suap, dan sebagainya.
