“Petani kita perlu didorong untuk bertransformasi dari agrobisnis ke agroindustri. Petani tidak lagi tanam, panen dan jual tetapi tanam, panen, olah dan jual”, tandas AWK.
Menurutnya, salah satu produk unggulan di NTT adalah jagung. Berdasarkan proyeksi, produksi jagung pada tahun 2024 mencapai sebesar 231,587 ton jagung pipih kering (JPK), dan pada tahun 2029 sebesar 1,015,245 ton.
Dengan ketersediaan lahan kering yang masih luas di NTT, produksi jagung dapat tingkatkan menjadi 4.206,845 ton dengan asumsi produktivitas dimaksimalkan menjadi 5 ton JPK/Ha melalui perluasan lahan tanam dan teknologi budidaya dan pupuk organik.
Lanjut Angelo, pada tataran hilir, nilai tambah jagung dapat dilakukan melalui pemanfaatan batang jagung untuk bahan baku bioethanol, pupuk organik dan pakan ternak.
“Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan bonggol jagung untuk bahan baku biomassa, pupuk organik dan pakan ternak. Demikian juga jagung pipih kering dapat juga diolah menjadi sereal jagung dan produk-produk lain yang akan memberikan nilai lebih pada hasil pangan tersebut”, lanjutnya.
