“Kami juga sudah bentuk komunitas dan mengirim surat ke pemerintah darah, DPRD, camat, dan lurah. Namun tetap tidak ada tanggapan. Bahkan kami juga sudah surati pimpinan Indomaret,” katanya.
Lusiano turut menyoroti adanya upaya penggalangan dukungan masyarakat untuk pembangunan Indomaret. Ia menilai langkah tersebut tidak tepat karena masyarakat merupakan konsumen, bukan pihak yang terdampak langsung.
“Indomaret itu seharusnya berhubungan dengan pelaku UMKM, bukan mencari dukungan dari masyarakat umum. Itu tidak tepat,” tegasnya.
Sementara itu, pelaku UMKM lainnya, Pratasius Bheda Ndore, menegaskan bahwa lokasi pembangunan yang direncanakan dinilai tidak sesuai karena terlalu dekat dengan pasar tradisional, kios-kios warga, dan rumah ibadah.
“Sejak awal sosialisasi kami sudah menolak. Lokasinya sangat dekat dengan pasar, kios, bahkan gereja. Ini yang menjadi dasar keberatan kami,” jelasnya.
Ia juga menyebut pihak Indomaret sempat menyampaikan tidak akan melanjutkan rencana pembangunan selama masih terjadi pro dan kontra di masyarakat.
