Relasi sugar daddy pada dasarnya adalah relasi ketergantungan yang dibungkus dengan narasi perhatian dan kedekatan emosional. Namun di balik itu terdapat struktur ketidaksetaraan yang tidak dapat disembunyikan. Kelompok yang lebih tua dan lebih mapan secara ekonomi menggunakan sumber daya mereka untuk mendapatkan kedekatan, ketundukan, atau kepatuhan dari pihak yang lebih muda. Dalam banyak kasus, hubungan ini tidak pernah benar-benar setara karena ia dibangun di atas kebutuhan, kerentanan, dan tekanan ekonomi belaka. Modernisasi dan pembangunan yang tidak merata memperburuk kondisi ini. Anak muda yang menghadapi biaya pendidikan tinggi, gaya hidup serba mahal, serta tuntutan sosial untuk tampil “berkelas” sering kali mencari jalan pintas. Ketika kondisi ekonomi dan simbolik tidak mendukung, maka relasi transaksional terlihat seperti solusi mudah, padahal sesungguhnya membuka ruang eksploitasi yang lebih luas.
Situasi ini menjadi jauh lebih serius ketika pola tersebut masuk dalam dunia pendidikan, seperti kasus yang mencuat di UNIKA St. Paulus mengenai dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. Dunia akademik yang seharusnya menjadi ruang pembentukan kapabilitas, intelektualitas, dan nilai-nilai kebaikan justru dapat berubah menjadi arena penyalahgunaan kekuasaan ketika figur otoritas memanfaatkan relasi akademik untuk tujuan manipulatif. Dosen yang memiliki kuasa menentukan nilai, memberikan rekomendasi, atau membuka akses akademik tertentu sering kali berada dalam posisi yang sangat menentukan kehidupan mahasiswa. Di sinilah relasi kuasa dapat diselewengkan, dan pola “sugar daddy” terselubung dapat tumbuh dalam bentuk perhatian berlebihan, bantuan finansial, janji kelulusan, atau iming-iming peluang tertentu. Dari perspektif sosiologi pembangunan, ini bukan hanya penyalahgunaan moral personal, tetapi bentuk korupsi terhadap institusi pembangunan manusia. Ketika kampus gagal menjadi ruang aman, maka pembangunan sosial pun ikut gagal.
