Gereja Perlu Waspada pada Pola “Sugar Daddy”

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20251129 135213
Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si, Dosen STPM Santa Ursula.

Fenomena sugar daddy juga memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan muda sering kali dikomodifikasi dalam sistem nilai masyarakat yang semakin konsumtif. Dalam budaya yang menilai seseorang berdasarkan status, tampilan, dan kekayaan, tubuh berubah menjadi alat negosiasi sosial. Perubahan sosial yang demikian adalah dampak dari pembangunan yang tidak diarahkan pada pemerataan dan kesejahteraan, melainkan pada penciptaan kasta sosial baru yang ditentukan oleh kekuatan ekonomi. Gereja harus memandang ini sebagai tantangan moral dan sosial: bagaimana membangun budaya yang menempatkan martabat manusia di atas nilai ekonominya, bagaimana membentuk generasi muda yang berani menolak manipulasi terselubung, dan bagaimana menghadirkan relasi yang bebas dari ketergantungan eksploitatif.
Diamnya gereja terhadap fenomena ini berarti membiarkan ketidakadilan struktural terus berlangsung. Gereja yang memilih untuk tidak peduli atau hanya menganggapnya sebagai isu moralitas pribadi akan kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan martabat manusia yang menjadi inti ajaran sosialnya. Gereja dipanggil untuk menghadirkan suara profetis yang berani menyentuh akar persoalan: relasi kuasa yang timpang, struktur pendidikan yang lemah dalam perlindungan, tekanan ekonomi yang menghimpit anak muda, serta budaya patriarki yang membuat perempuan rentan terhadap eksploitasi.

Exit mobile version