Harapan yang Tidak Mengecewakan

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
1001202060
Agustinus Tetiro, anggota Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA). (Foto: HO-Facebook Agustinus Tetiro).

Oleh: Agustinus Tetiro, anggota Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA)

RAKYATFLORES.COM | OPINI-Saat menghadiri Perayaan Natal Nasional di Indonesia Arena, kintal Gelora Bung Karno pada Sabtu (28/12/14), Presiden Prabowo Subianto menarik perhatian massa dan publik karena beberapa alasan. Pertama, Prabowo tidak menggunakan teks kata sambutan yang telah disiapkan. “Saya lebih suka berbicara dari hati,” jelas Prabowo. Kedua, dalam sambutannya Prabowo langsung merespons pesan natal yang diberikan Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin. “Yang bernama Subianto, orangnya baik-baik,” kelakar Prabowo yang kemudian disambut gelak tawa para hadirin. Ketiga, Prabowo sempat mengatakan, “Saya terlahir dari ibu seorang Kristiani. Saya ini bisa dikatakan sebagai contoh anak dari keluarga Pancasila”. Keempat, Prabowo menghembuskan optimisme dan harapan yang positif untuk masa depan Indonesa. “Saya telah melihat data-datanya, saya optimis, kita bisa maju. Hanya, kita perlu bersabar. Kami baru saja mulai bekerja”.

Kira-kira empat hal itulah yang dalam dugaan saya membuat Prabowo kemudian sangat diapresiasi oleh hampir semua umat Kristiani baik yang hadir di Indonesia Arena malam itu, maupun yang menonton acara tersebut dari layar kaca. Orang Kristiani Indonesia adalah anak sah dan pemegang saham Bangsa Indonesia, dan bukan hanya sekedar nge-kost di Indonesia, demikian pernyataan ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Jacklevyn Ftits Manuputty. Dalam nada dasar dan semangat sebagai anak sah dan pemegang saham resmi bangsa Indonesia, catatan kecil ini ditulis dari hati dan budi.

Hati dan Budi untuk Indonesia

Seperti Presiden Prabowo ingin berbicara dari hati saat perayaan Natal nasional, maka orang-orang Kristiani juga perlu menggunakan logika hati dalam bernegara. Logika hati ini menyangkut banyak hal, terutama dalam menjunjung tinggi etika pembangunan. Mgr Subianto berpesan, “Sebagai anak-anak bangsa, mari kita menjadikan Indonesia sebagai Betlehem, tempat Allah hadir dan bertahta”: memberikan terang bagi bangsa dan dunia. Hal ini sejalan dengan pesan bersama Natal 2024 dari PGI dan KWI: “Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem!”

Mgr Subianto dan Presiden Subianto sama-sama berkomitmen dalam bahasa yang sangat khas pesan Natal untuk sama-sama melawan kegelapan. Keduanya ingin membawa Indonesia kepada Cahaya dan Terang yang memerdekakan. Seperti memahami makna Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus dan yang secara etimologis berarti “rumah roti”, tempat orang-orangnya tidak boleh mengalami kelaparan, Presiden Prabowo memberikan jaminan bahwa tidak ada sedikitpun niat pemerintahan di bawah kepemimpinannya untuk korupsi. Tidak ada tempat bagi koruptor dalam pemerintahannya. Para pembantu presiden seperti Menteri, para kepala badan/lembaga dan lain-lain siap membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang maju.

Dari pesan harapan Bapa Uskup Subianto dan komitmen etis Pembangunan dari Presiden Subianto, kita mengantongi harapan bahwa Indonesia akan menuju ke jalan pembangunan yang benar. Harapan itu bukan tanpa dasar. Indonesia memiliki semua potensi yang bisa diaktualisir dengan sangat baik dan positif ke depannya.

Seperti Prabowo bangga terlahir dari ibu seorang Kristiani dan dibesarkan dalam keluarga Pancasilais, maka orang-orang kristiani Indonesia, baik yang terbaptis ataupun orang-orang Kristen anonim (baca: tidak dibaptis secara Kristen, namun yang berkehendak baik dan menghidupi ajaran-ajaran Kristus) perlu mendukung visi bersama untuk Indonesia Maju. Dukungan itu berupa menjadi warga negara yang baik. Baik dalam arti berkontribusi positif dengan tenaga dan pikiran, dengan hati dan budi untuk Indonesia.

Exit mobile version