Oleh: Rinto Namang
OPINI, RAKYATFLORES.COM-Suasana tegang. Aparatur negara dan alat berat datang di muka rumah. Hadir, mengintimidasi, siap mencengkram. Beberapa saat kemudian, rumah kecil itu dirobohkan rata tanah.
Suara histeris yang awalnya nyaring, kian memudar, serak, akhirnya hilang, kehabisan tenaga. Tapi masih melawan. Perempuan itu seorang janda beranak lima. Dia menangis sejadi-jadinya, berusaha menghela gigi besi ratusan ton, yang pada akhirnya kalah. Perempuan itu Else de Hoog yang tidak berpikir lain kecuali menghidupi buah kandungnya.
Di bulan Maria, ketika orang-orang Katolik mendaraskan Rosario untuk memohon bantuan, ia juga berdoa. Do’anya melibatkan seluruh dukacita, situasi tidak jelas, kegelisahan dan kekecewaan, sembari berharap rumahnya tidak digusur. Tuhan, entah kenapa, diam membisu, di hadapan ketidakadilan dan masa sulitnya.
Tapi, satu gambar yang berhasil ditangkap oleh kamera buram, memotret janda ini keluar untuk yang terakhir kalinya dari pintu rumah mereka sambil memeluk patung Bunda Maria. Mungkin Else marah, kecewa, tapi dalam situasi sulit itu ia masih tetap berharap pada perantaraan Perawan Maria. “Kau tidak akan pernah mengecewakan saya,” batinnya.
