Pemikiran ekonom budaya David Throsby semakin relevan dalam konteks ini. Menurutnya, aset budaya selalu memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu nilai budaya (cultural value) dan nilai ekonomi (economic value). Lagu daerah tidak hanya menyimpan memori kolektif dan identitas masyarakat, tetapi juga memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara kreatif melalui pendidikan, pertunjukan, produksi musik, distribusi digital, perlindungan hak cipta, dan pengembangan industri kreatif.
Karena itu, pelestarian lagu daerah tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Perguruan tinggi, sekolah, komunitas seni, pelaku industri musik, pemerintah daerah, media, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang saling menguatkan. Kampus memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi tempat lahirnya riset, kreativitas, inovasi, sekaligus regenerasi pelaku seni. KKBM 2026 memberikan contoh nyata bagaimana pendidikan tinggi mampu mengintegrasikan pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pelestarian budaya dalam satu kegiatan yang berdampak langsung.
