Institusionalisasi Kegagalan MBG di Ende: Ketika Rutinitas Menggantikan Tanggung Jawab

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
Biru Kuning Modern Perjalanan Facebook Cover 20251107 093811 0000
Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si, Dosen STPM Santa Ursula.

Masalahnya, keberhasilan administratif tidak selalu berarti keberhasilan biologis. Anak-anak memang menerima makanan, tetapi tidak ada jaminan bahwa makanan tersebut benar-benar memenuhi standar gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mereka. Kebutuhan nutrisi anak usia sekolah dasar jelas berbeda dengan remaja, tetapi dalam praktiknya, diferensiasi ini sering diabaikan. Makanan menjadi seragam, disederhanakan demi kemudahan distribusi dan efisiensi operasional. Dalam jangka pendek, sistem tampak berjalan lancar. Namun dalam jangka panjang, pendekatan seperti ini berisiko menciptakan generasi yang secara formal “dilayani,” tetapi secara biologis tetap rentan.

Yang membuat situasi ini semakin serius adalah tidak adanya mekanisme pengawasan substantif yang kuat untuk mengoreksi kelemahan tersebut. Program gizi dijalankan tanpa pengawasan gizi yang memadai. Evaluasi lebih berfokus pada keberadaan makanan, bukan kandungan nutrisinya. Tidak ada tekanan sistemik untuk memastikan bahwa setiap porsi makanan benar-benar memenuhi standar ilmiah yang diperlukan. Tanpa pengawasan berbasis pengetahuan, sistem kehilangan kemampuannya untuk membedakan antara keberhasilan nyata dan keberhasilan semu.

Exit mobile version