Kondisi ini membuat banyak mahasiswa bebas kuliah yang terancam drop out karena tidak fokus kuliah atau mengerjakan skripsi. Beberapa orang akhirnya berhasil menjadi sarjana juga, tapi dari perguruan tinggi lain hasil konversi nilai atau bahkan kuliah ulang dari awal. Yang lainnya nekat masuk dunia kerja dengan ijazah sekolah menengah.
Dalam kondisi seperti itu, Pater Budi hadir sebagai figur guru dan pembimbing yang berperan dengan pendekatan yang sangat luar biasa; beberapa mahasiswa ditemui di tempat kostnya dan didampingi sampai ujian skripsi. Seorang teman yang hanya terbaring saja karena kecelakaan sepeda motor setengah bergurau membanggakan diri karena dibantu dan difasilitasi sedemikian rupa oleh Pater Budi sampai bisa ujian skripsi dengan kursi roda. Ternyata kualitas kepribadian dan intelektual Pater Budi yang kami kenal waktu itu menghantarnya sekian jauh memangku berbagai jabatan penting dalam SVD, sampai menjadi uskup agung Ende saat ini.
Berbagai tulisan dan kesaksian yang bertebaran di sejumlah media hari-hari ini cukup jelas menggambarkan kualitas beliau. Gambaran itu sekaligus seolah menegaskan kesenjangan yang cukup kontras antara kualitas dan kapasitas uskup agung terpilih dengan mayoritas umat (dan juga imam) di keuskupan ini. Sedikit tidaknya bisa dicermati dari fenomena ini, ketika Keuskupan Agung Kupang dan Keuskupan Labuan Bajo mendapatkan seorang uskup dari imam-imam yang hidup dan berkarya di wilayah keuskupannya sendiri, Keuskupan Agung Ende tidak bisa mendapatkannya dari 239 orang imamnya.
Terlepas dari berbagai kriteria dan pertimbangan otoritas Vatikan, keuskupan agung Ende tampaknya membutuhkan seorang gembala dengan kualitas dan kapasitas tertentu, yang tidak ditemui dari kalangan imam-imamnya sendiri.
Saya memaknai kesenjangan itu sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan, iedalisme dan realitas, surga dan bumi! Kristianitas memang memandu umat manusia mengarungi samudera kesenjangan ini; kerajaan surga yang sudah hadir dan dialami secara samar-samar dan tidak sempurna di sini saat ini, sambil terus menantikan dengan sabar dan penuh harap kepenuhannya nanti di sana nun di ujung masa.
Uskup Budi tentu saja tidak datang jauh-jauh dari Roma ke Ende hanya untuk pamer keunggulan dan kualitas personal, intelektual, moral dan spiritualnya kepada umat dan masyarakat Ende, Ngada dan Nagekeo yang terhuyung-huyung mengejarnya dari belakang.
