Oleh Patricius M Botha
Dosen STPM Santa Ursula
OPINI, RAKYATFLORES.COM-Dalam kultur sepak bola NTT, terutama pada panggung El Tari Memorial Cup (ETMC), kata legenda sering dilontarkan dengan mudah: untuk pemain yang pernah membawa pulang piala, pemain yang pernah mencetak gol bersejarah, atau pemain yang kariernya melintasi beberapa klub. Namun perdebatan mencuat ketika seorang pemain yang dulu membela PSN sebuah klub dengan basis massa kuat dan tradisi panjang kini bermain untuk tim lain. Tiba-tiba muncul pertanyaan: apakah ia masih layak disebut legenda?.
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi di bawahnya tersimpan soal identitas, loyalitas, memori kolektif, dan dinamika sepak bola modern di daerah yang penuh sentimen kultural seperti NTT. Dalam sosiologi budaya, legenda bukan sekadar status; ia adalah konstruksi sosial. Artinya, legenda tidak ada dengan sendirinya ia lahir karena komunitas menciptakannya, merawatnya, lalu mengabadikannya. Maka ketika pemain itu hijrah ke klub lain, sebagian publik merasa “identitas” legenda itu tercabut dari akar tempat ia dibesarkan. Bagi mereka, legenda berarti terikat selamanya dengan klub asal. Perpindahan dianggap seperti mengaburkan narasi heroiknya.
