Menepi untuk Melompat: Retret Kepemimpinan sebagai Arah Baru Birokrasi NTT

Reporter: Tommy M. Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20251009 113355
Gergorius Babo, Asesor SDM Aparatur Ahli Muda BKD Provinsi NTT.

Boyatzis dan McKee (2005) dalam Resonant Leadership menekankan pentingnya ruang refleksi bagi para pemimpin agar tidak kehilangan makna atas tanggung jawab yang diemban. Tanpa ruang refleksi, kepemimpinan berisiko menjadi mekanis dan kehilangan daya inspirasi. Retret, dengan suasananya yang kondusif, berfungsi sebagai recharging energi kepemimpinan sekaligus sarana menajamkan visi. Dengan demikian, retret bukan hanya jeda, melainkan forum strategis yang memastikan arah kepemimpinan tetap terjaga.

Salah satu hambatan klasik birokrasi Indonesia adalah ego sektoral. Setiap unit cenderung bekerja sendiri-sendiri, sehingga sulit membangun kolaborasi lintas sektor. Kondisi ini menghasilkan inefisiensi pelayanan publik dan keterlambatan pengambilan keputusan. Retret strategis hadir untuk memutus rantai ego sektoral tersebut. Dalam suasana nonformal, pejabat berinteraksi lebih cair, membangun komunikasi terbuka, dan menyusun langkah strategis bersama.

Mumford et al. (2003) melalui konsep collective leadership menegaskan bahwa kepemimpinan efektif bukan monopoli individu, melainkan hasil kolaborasi lintas aktor. Retret kepemimpinan di NTT sejalan dengan prinsip ini. Dengan menghadirkan 677 pejabat struktural, retret mempercepat harmonisasi visi pembangunan sekaligus memperkuat koordinasi dalam mencapai target PAD.

Exit mobile version