“Jangan berdagang di tengah penderitaan masyarakat Lewotobi. Ada ibu-ibu yang mengaku kesulitan membayar listrik mahal selama setahun terakhir,” tambahnya.
Keluhan serupa datang dari para pengungsi. Rovina, penyintas asal Desa Boru, menuturkan bahwa mereka hanya menikmati listrik gratis selama dua minggu pertama. Setelah itu, warga harus patungan untuk membayar tagihan listrik bersama.
“Kami satu kopel lima kepala keluarga. Harus patungan. Kadang kami kecoh karena pemakaian tidak sama, tapi penagihannya rata. Kami bayar sekitar Rp. 21.000 per rumah tangga dan listrik hanya bertahan delapan atau sembilan hari,” jelasnya.
Untuk bertahan hidup, para pengungsi bahkan meminjam lahan warga di Desa Konga untuk menanam sayur yang kemudian dijual di Larantuka. Hasilnya digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak.
“Kami mohon pemerintah jangan bebankan kami di atas penderitaan kami,” tegas Rovina.
Sementara itu, Ene Temu, pengungsi asal Desa Ilipali Kecamatan Ilir Barat, mengatakan bahwa meski bersyukur atas bantuan pemerintah, mereka masih kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan dasar.
