“Kami sangat mengapresiasi kerja mereka. Dari hasil pengamatan, kualitas telur yang dihasilkan cukup baik,” tambahnya.
Namun demikian, Aliando mengakui bahwa kapasitas produksi peternakan Tunas Baru masih terbatas. Saat ini, produksi telur mencapai sekitar 14 rak per hari, sementara kebutuhan SPPG di Kabupaten Ende berkisar antara 80 hingga 90 rak per hari.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kita belum mandiri. Namun, bisa diupayakan dengan sistem pengumpulan selama dua hingga tiga hari sebelum disuplai ke SPPG,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pola distribusi mingguan bisa menjadi solusi sementara, dengan tetap memperhatikan kualitas dan kuantitas. Sementara proses sortir nantinya akan dilakukan oleh pihak SPPG.
Lebih lanjut, pihak BGN terus mendorong SPPG untuk membuka peluang kerja sama dengan UMKM lokal sebagai mitra strategis dalam penyediaan bahan baku, tidak hanya telur tetapi juga komoditas lain seperti ayam dan sayur-sayuran.
“Kami terus melakukan sosialisasi, terutama di wilayah terpencil yang sudah memiliki SPPG, agar masyarakat bisa memanfaatkan peluang ini dan mendukung pemenuhan bahan baku dari sumber lokal,” katanya.
