Karya yang sebelumnya adalah riset Wulan dan Rio untuk pementasan di Intur Bali, kini berkembang menjadi karya kolektif yang melibatkan rekan-rekan Komunitas KAHE dan AGHUMI. Untuk mematangkan karya, Wulan dan dua orang rekannya dari Bali datang ke Maumere, berdiskusi dan berusaha mendekatkan dua isu ini.
“Waktu itu jadinya kita bahas isu kolonialisme dan modernisme di Flores dan Bali. Kita pakai cerita eskavasi Pater Verhoeven, SVD dan memainkan tarot sebagai media cerita. Kita coba lihat lagi isu ekonomi, pasar yang hari ini masuk juga lewat pariwisata yang begitu massif. Ini kan punya korelasi juga dengan jejak-jejak kolonialisme dan konsep modernisme yang sangat Eropa sentris itu,” tambah Wulan.
Pada tahun 2024 lalu, sebelum dipentaskan di Intur Bali, karya berjudul “Setali Cahaya” ini dipentaskan lebih dahulu di aula Rujab Bupati Sikka, Kota Maumere.
Karya yang Terus Berkembang
Setelah dipentaskan di Bali pada tahun 2024 lalu, tahun ini “Setali Cahaya” kembali pentas di Maumere pada hari Sabtu-Minggu, 12-13 Juli 2025 di aula Rujab Bupati Sikka. Karya ini berkembang menjadi karya kolektif yang dikerjakan dengan metode penciptaan bersama. Jika sebelumnya isu kolonialisme dan modernisme itu dikelolah melalui cerita Pater Verhoeven dan dimainkan dengan medium tarot, kini isu tersebut diperluas. Materi-materi yang dikumpulkan, dikelola dan dipertajam dalam diskusi yang intens. Tim riset, penulis naskah, aktor, dan tim produksi rembuk untuk melihat kemungkinan pengembangan karya ini.
