“Kita ingin lebih segar, tidak hanya soal membaca sejarah, tetapi juga pertunjukannya, sehingga bisa sama-sama ngobrol. Ngobrol soal Maumere, Flores, Bali, Indonesia dan dunia yang hari ini sepertinya punya soal yang sama. Ada perang, soal identitas, perebutan lahan, kaplitalisme, periwisata yang kompleks. Soal-soal itu beda di kuasa saja” ungkap Rio.
Tahun ini, pertunjukan “Setali Cahaya” didukung oleh Yayasan Kelola, sebuah lembaga yang kerja-kerjanya beorientasi pada pengembangan dan penguatan ekosistem pertunjukan di Indonesia.
