Lebih dari itu, suara seorang mahasiswa muda ternyata mampu menggerakkan perhatian pemerintah.Bahkan, dinamika yang terjadi kemudian membuat perangkat pemerintah di Provinsi NTT ikut bergerak. Wakil Gubernur NTT pun hadir di Alor di luar jadwal kunjungan yang telah direncanakan sebelumnya. Ini tentu bukan sesuatu yang sederhana.
Para pemimpin daerah di Alor, para tokoh masyarakat, maupun orang-orang Alor yang telah lama berada di berbagai tempat di Indonesia tentu memiliki kapasitas dan jaringan masing-masing. Namun, peristiwa ini memberikan sebuah pelajaran penting.
Kadang-kadang bukan siapa yang paling tinggi jabatannya yang paling cepat didengar, tetapi siapa yang mampu menyampaikan suara rakyat dengan ketulusan dan cara yang tepat.
Dede datang bukan sebagai pejabat.
Ia bukan anggota DPR. Ia bukan kepala daerah. Ia bahkan baru seorang mahasiswa semester pertama.
Tetapi justru dari posisi itulah muncul sesuatu yang menarik. Ia berbicara tanpa membawa kepentingan jabatan. Ia menyampaikan permohonan dengan bahasa yang santun. Ia memahami siapa yang sedang diajak berbicara. Dan yang paling penting, ia mampu menunjukkan bahwa apa yang disampaikannya berasal dari kepedulian terhadap masyarakat. Air mata yang keluar ketika menyampaikan aspirasi bukan sekadar air mata.
