Pertanyaan tersebut muncul karena kolesterol tinggi sering menjadi salah satu masalah kesehatan yang dijumpai di masyarakat. Tidak jarang kita mendengar orang menghubungkan makanan bersantan dengan kolesterol. Bahkan, ada anggapan bahwa semakin sering seseorang mengonsumsi makanan bersantan, semakin besar pula kemungkinan kolesterolnya meningkat. Padahal, hubungan antara makanan dan kolesterol tidak sesederhana itu. Kadar kolesterol seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, faktor genetik, hingga kebiasaan hidup sehari-hari.
Secara gizi, kelapa memang mengandung lemak. Karena itu, pembahasan mengenai santan tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai lemak jenuh. Lemak jenuh telah lama menjadi perhatian dalam ilmu gizi karena pola konsumsi lemak jenuh yang tinggi dapat berhubungan dengan peningkatan kadar LDL atau low density lipoprotein, yang sering dikenal sebagai kolesterol “jahat”.
Menariknya, pembahasan mengenai kelapa dan produk turunannya tidak selalu memberikan hasil yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya langsung mengatakan bahwa “santan pasti menyebabkan kolesterol tinggi.”
