Otoritas Sepak Bola Jadi Boneka Kekuasaan
Asprov PSSI NTT tak lebih dari papan catur elit politik lokal. Bukan lagi pengurus olahraga, tapi pelayan setia bagi aktor-aktor kuasa yang memperlakukan sepak bola sebagai panggung kekuatan, bukan ruang publik. Pengurus PSSI NTT gagal menjaga independensinya, dan kini justru menjadi dalang utama dalam merusak semangat persaudaraan antardaerah.
Keputusan ini tidak lahir dari pertimbangan teknis, tetapi dari tarik-menarik kepentingan politik, gengsi kepala daerah, dan perebutan spotlight. Sepak bola yang seharusnya menyatukan, kini menjadi alat pemecah. Dan kita diam?
Mewabahnya Budaya Main Belakang dan Kekuasaan Otoriter
Ketika keputusan strategis seperti penentuan tuan rumah ETMC bisa digeser tanpa mekanisme yang adil dan partisipatif, itu adalah gejala budaya otoritarianisme dalam pengelolaan publik. Di balik layar, ada aktor-aktor kuat yang memaksakan kehendak, mengatur arah pertandingan, bahkan sebelum peluit dibunyikan.
Inilah oligarki olahraga, wajah lain dari kediktatoran sipil yang menyusup ke setiap aspek kehidupan masyarakat – dari politik, budaya, hingga sepak bola.
