Bagi kita yang beriman, ada keyakinan yang lebih dalam: Manusia mungkin dapat menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Manusia mungkin dapat mengelabui auditor. Manusia mungkin dapat mengatur laporan. Manusia mungkin dapat menghindari pemberitaan.
Tetapi tidak ada perilaku manusia yang tersembunyi dari Tuhan Yang Maha Esa.
Karena itu jangan menunggu musibah untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jangan menunggu rakyat menderita untuk mulai mendengar. Jangan menunggu tertangkap untuk berhenti korupsi. Jangan menunggu kehilangan jabatan untuk belajar rendah hati.
Musibah Jangan Dijadikan Alat Menuduh, tetapi Jadikan Cermin
Kita harus berhati-hati dalam mengatakan bahwa gempa bumi, letusan gunung, banjir, kebakaran, atau meninggalnya saudara-saudara kita merupakan hukuman Tuhan terhadap pihak tertentu.
Kita tidak memiliki dasar untuk mengetahui kehendak Tuhan sampai sejauh itu.
Korban bencana bukan pihak yang pantas disalahkan atau dianggap sedang dihukum. Sebaliknya, musibah hendaknya menjadi cermin bagi kita semua. Apakah kita sudah jujur? Apakah kita sudah menjaga lingkungan? Apakah kita sudah menolong sesama? Apakah pembangunan benar-benar diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat? Apakah hukum benar-benar berlaku sama? Apakah mereka yang diberikan kekuasaan masih ingat bahwa jabatan adalah amanah? Apakah dunia usaha sudah menjalankan tanggung jawabnya? Apakah tokoh agama sudah menjadi suara hati nurani? Apakah masyarakat sudah menjaga lingkungannya? Apakah generasi muda sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik?
