Tetapi perspektif lain justru melihat legenda secara lebih jernih dan dewasa. Legenda adalah rekam jejak, bukan alamat domisili sepak bola. Seorang pemain yang pernah berkeringat, berdarah, dan berjuang untuk PSN pada momen-momen penting entah saat semifinal dramatis, gol penentu, atau sikap kepemimpinan di ruang ganti telah menorehkan memori yang tidak bisa dipindahkan begitu saja. Klub baru mungkin akan mendapatkan tenaganya hari ini, tetapi sejarah yang ditulisnya bersama PSN tetap tinggal di sana. Waktu tidak bisa dicabut.
Masalahnya terletak pada ekspektasi suporter. Di banyak daerah, termasuk NTT, suporter kerap mempersonifikasi klub sebagai keluarga besar. Ketika seorang pemain pergi, rasanya seperti pengkhianatan keluarga. Padahal karier sepak bola di ETMC, sebagaimana di tempat lain, adalah ruang sosial yang cair penuh negosiasi antara kebutuhan hidup, kesempatan bermain, dinamika manajemen, dan ambisi personal. Dalam struktur semacam itu, mempertahankan loyalitas tunggal tidak selalu realistis, apalagi bagi pemain senior yang terus ingin relevan.
