Karena itu, sudah saatnya kita berani mengatakan: STOP menjadikan mie instan sebagai makanan utama korban bencana.
Ini bukan berarti mie instan sama sekali tidak boleh diberikan. Dalam kondisi tertentu, makanan yang mudah disimpan, mudah didistribusikan, dan mudah dimasak memang dapat memiliki fungsi darurat. Tetapi persoalannya adalah ketika mie instan menjadi pilihan utama, berulang, dalam jumlah besar, dan menggantikan pangan yang lebih bergizi.
Bencana Tidak Boleh Menghilangkan Hak atas Makanan yang Layak
Korban gempa membutuhkan lebih dari sekadar kalori. Mereka membutuhkan makanan yang membantu tubuh bertahan dan pulih setelah mengalami tekanan fisik dan psikologis.
Orang yang kehilangan rumah, tidur di tenda, mengalami ketakutan, kehilangan anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, dan hidup dalam kondisi serba terbatas membutuhkan makanan yang bergizi dan beragam.
Karena itu, bantuan pangan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: “Apa yang paling mudah kita berikan?” Tetapi harus berubah menjadi: “Apa yang paling dibutuhkan korban?” Perubahan cara berpikir ini sangat penting.
