Jika hal ini terlaksana, maka hal lain yang mungkin bisa juga dibayangkan bahwa pada suatu titik tertentu, para peneliti bisa menemukan kekeringan di tengah data-data. Maka, kita membutuhkan kelompok intelektual lain yang bisa membaca data-data hasil penelitian ilmu sosial dengan cara yang lebih hidup. Mereka itu adalah kelompok intelektual yang datang dari ilmu filsafat, teologi dan sastra-kebudayaan yang kita tahu relatif banyak di NTT.
Sesekali bolehlah kelompok ASN peneliti berdiskusi tentang data soal perempuan NTT bersama teolog feminis Merry Kolimon dan novelis Maria Mathildis Banda. Begitu juga data tentang lingkungan hidup bersama filsuf politik lingkungan Bastian Limahekin dari IFTK Ledalero. Atau, berbicara tentang kekayaan budaya dan sejarah Flobamora bersama filsuf sejarah Leo Mali dari Fakultas Filsafat Unwira Kupang. Mereka ini mungkin dipastikan tidak hanya akan melihat data sebagai data, tetapi serentak memberikan orientasi ke depan tentang kita NTT harus bagaimana setelah menerima data yang ada.
