Karena pemimpin yang besar tidak selalu lahir dari mereka yang sejak awal berada di panggung kekuasaan.
Kadang-kadang, ia muncul dari seorang anak muda yang masih duduk di bangku kuliah, kemudian suatu hari berdiri di hadapan orang besar, menyampaikan permohonan dengan suara yang santun, dengan mata yang berkaca-kaca, dan berkata dari dalam hati:
“Saya datang bukan untuk diri saya. Saya datang untuk masyarakat saya.”
Dan mungkin, di situlah kekuatan Dede.
Ia masih mahasiswa semester pertama, tetapi sudah memahami satu hal yang sangat penting dalam kepemimpinan: mengetahui kapan harus berbicara, kepada siapa harus berbicara, bagaimana harus berbicara, dan untuk siapa ia harus berbicara. Itulah kepemimpinan yang dimulai dari hati.
