Terlepas dari segala perbedaan penilaian terhadap kepemimpinannya, kita patut menghargai apabila seseorang memilih untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan keburukan yang sama.
Jokowi memberikan contoh bahwa kesabaran bukanlah tanda kelemahan. Kerendahan hati bukan berarti kehilangan harga diri. Dan memilih diam bukan berarti tidak memiliki kemampuan untuk melawan.
Justru, ada kekuatan tersendiri ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya di tengah situasi yang berpotensi memancing emosi.
Bagi saya, kehadiran Jokowi di ruang pengadilan juga mengandung pesan demokrasi yang sangat penting: tidak seorang pun boleh merasa terlalu tinggi untuk menghormati proses hukum. Mantan presiden sekalipun harus bersedia hadir ketika hukum membutuhkan keterangannya.
Sebaliknya, tidak seorang pun boleh direndahkan martabatnya hanya karena sedang berada dalam persoalan hukum. Proses hukum harus dihormati, tetapi penghormatan terhadap martabat manusia juga harus dijaga.
Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh mengkritik kebijakan Jokowi. Kita bahkan boleh tidak menyukai gaya kepemimpinannya. Itu semua merupakan hak demokratis setiap warga negara.
