Di antara nama yang muncul, Dominikus Minggu Mere (Domi Mere) tampak memiliki keunggulan yang paling nyata dari sisi akses terhadap kekuasaan. Sebagai Wakil Bupati Ende, ia memiliki posisi strategis yang memungkinkan dirinya membangun relasi yang lebih luas dibandingkan kandidat lain. Dalam teori elite politik yang dikembangkan oleh Gaetano Mosca dan Vilfredo Pareto, figur yang memiliki akses terhadap sumber daya kekuasaan umumnya memiliki peluang lebih besar untuk mengendalikan organisasi politik karena mampu menyediakan insentif politik bagi para pengikutnya.
Namun justru di sinilah letak persoalan yang perlu dikritisi. Jika Golkar memilih Domi Mere semata-mata karena kedekatannya dengan kekuasaan, maka partai sedang mengirimkan pesan bahwa akses terhadap jabatan publik lebih penting daripada proses kaderisasi. Dalam jangka pendek pilihan ini mungkin menguntungkan karena dapat meningkatkan daya tawar politik Golkar. Akan tetapi dalam jangka panjang, hal tersebut berpotensi memperlemah identitas kader partai. Golkar dapat terjebak menjadi kendaraan politik yang bergantung pada figur, bukan organisasi yang hidup karena sistem kaderisasi yang sehat.
