Johanes Pela menempati posisi yang lebih menarik untuk dianalisis. Ia dapat disebut sebagai figur yang berada di antara dua kutub tersebut. Pengalaman politiknya cukup panjang, tetapi ia tidak berada dalam lingkar kekuasaan sebagaimana Domi Mere. Di sisi lain, basis organisasinya juga tidak sekuat Megi Sigasare. Dalam teori kompetisi elite, figur seperti Johanes sering kali muncul sebagai alternatif ketika organisasi mengalami polarisasi. Ia bisa menjadi titik temu bagi kelompok-kelompok yang tidak menginginkan dominasi salah satu kubu.
Namun secara objektif, peluang Johanes sangat bergantung pada dinamika internal Musda. Jika terjadi pertarungan tajam antara dua kandidat utama, maka Johanes dapat memperoleh keuntungan politik. Sebaliknya, jika dukungan kader mengerucut pada satu figur dominan, ruang geraknya akan menjadi lebih sempit.
Dari sudut pandang akademis, sesungguhnya Musda Golkar Ende sedang memperlihatkan pertarungan antara tiga model kepemimpinan. Domi Mere merepresentasikan model kepemimpinan berbasis akses kekuasaan. Megi Sigasare mewakili model kepemimpinan berbasis kaderisasi dan organisasi. Sementara Johanes Pela mencerminkan model kepemimpinan berbasis kompromi politik dan pengalaman.
Pertanyaan mendasarnya adalah: model mana yang paling dibutuhkan Golkar Ende saat ini?
