Setelah Gusur, Lalu Apa?

Reporter: Tommy Mbenu Nulangi |  Editor: Redaksi
IMG 20260412 WA0011 2
Arianto Zany Namang.

Oleh karena ruang kota juga menjadi milik mereka yang tergusur hari ini, maka harus ada solusi praktis dan konkret yang sudah disiapkan oleh pemda kabupaten Ende bagi mereka. Jika tidak ada, maka hal itu sudah pasti melukai rasa keadilan korban: sudah jatuh tertimpa tangga!

Filosof politik John Rawls secara gamblang menyatakan bahwa kebijakan yang adil harus sudah selalu menggapai dan melindungi mereka yang paling rentan. Maka, penggusuran tanpa solusi praktis dan konkret yang layak bukan sekadar persoalan teknis tata ruang, melainkan kegagalan moral negara dalam melindungi warga negara yang paling lemah

Perempuan dan Anak Korban Paling Utama

Dampak penggusuran selalu berlapis, tetapi perempuan dan anak-anak adalah korban paling utama dalam lapisan paling luar tetapi lukanya dalam. Sama seperti ketika perang di Palestina atau pembabatan di hutan di Papua, yang menjadi korban selalu perempuan dan anak-anak.

Ketika lapak dihancurkan, rumah dibongkar, yang runtuh bukan sekadar kayu dan tenda sederhana, melainkan sistem penopang kehidupan rumah tangga: biaya sekolah anak, kebutuhan makan sehari-hari termasuk bayar koperasi harian dan pinjaman online (pinjol), hingga martabat sebagai manusia yang bekerja.

Tag:

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Exit mobile version