Bencana Harus Menjadi Momentum Memperkuat Ekonomi Lokal
Bantuan pangan seharusnya tidak selalu berarti membawa barang dari kota ke desa. Mengapa tidak membangun sistem: Donasi, dibelanjakan secara lokal, petani/nelayan/UMKM mendapatkan pendapatan, pangan diolah oleh masyarakat, korban memperoleh makanan, ekonomi lokal bergerak, pemulihan berlangsung. Model seperti ini menciptakan multiplier effect. Satu rupiah bantuan dapat memberikan manfaat kepada lebih dari satu kelompok. Korban memperoleh makanan. Petani memperoleh pasar. Nelayan memperoleh pendapatan. UMKM memperoleh pembeli. Kelompok perempuan memperoleh kesempatan mengelola dapur. Masyarakat memperoleh kembali aktivitas ekonomi.
Dengan demikian, bantuan tidak hanya merespons bencana, tetapi juga membangun pemulihan. Bantuan yang bermartabat bukan sekadar membuat korban bertahan hidup hari ini, tetapi membantu mereka bangkit dan memulihkan kehidupannya.
“Stop mie instan sebagai bantuan utama. Mulai bantuan berbasis kebutuhan. Prioritaskan pangan lokal. Bangun dapur komunitas. Beli dari masyarakat terdampak. Dan buat kebijakan yang benar-benar membela korban bencana”.
